Thrifting: Bukan Cuma Murah, Tapi Juga Gaya Hidup
data-sourcepos="3:1-3:444">harmonikita.com – Thrifting, atau berburu pakaian bekas, kini bukan lagi sekadar kegiatan mencari barang murah, melainkan telah bertransformasi menjadi tren gaya hidup yang digandrungi banyak orang, terutama kaum muda. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah dan perkembangan baju thrift hingga bisa sepopuler sekarang? Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan thrifting, dari sekadar barang bekas hingga menjadi bagian dari industri fashion yang berkelanjutan.
Awal Mula Thrifting: Jauh Sebelum Era Media Sosial
Jauh sebelum Instagram dan TikTok diramaikan dengan haul thrift, kegiatan jual beli pakaian bekas sudah ada sejak berabad-abad lalu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa praktik ini sudah ada sejak abad ke-19, di mana organisasi sosial seperti Salvation Army dan Goodwill mulai mengumpulkan dan menjual pakaian bekas untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Pada masa itu, lebih didorong oleh faktor ekonomi dan sosial, di mana orang-orang mencari alternatif pakaian yang lebih terjangkau.
Revolusi Industri pada abad ke-19 juga berperan dalam perkembangannya. Produksi massal pakaian membuat harga pakaian baru menjadi lebih murah, sehingga orang-orang lebih mudah membuang pakaian lama mereka. Hal ini menciptakan pasokan pakaian bekas yang melimpah dan membuka peluang bagi berkembangnya pasar thrifting.
Thrifting di Tengah Krisis dan Perubahan Gaya Hidup
Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat pada tahun 1920-an semakin mempopulerkannya. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan kesulitan ekonomi, sehingga membeli pakaian bekas di toko thrift menjadi pilihan yang realistis. Pada masa ini, thrifting bukan lagi sekadar pilihan bagi mereka yang kurang mampu, tetapi juga menjadi solusi bagi banyak orang di tengah kesulitan ekonomi.
Memasuki era 1970-an, mengalami transformasi yang signifikan. Gerakan kontra budaya dan munculnya berbagai subkultur, seperti punk dan grunge, menjadikan pakaian bekas sebagai simbol ekspresi diri dan perlawanan terhadap arus utama. Pakaian bekas bukan lagi sekadar barang murah, tetapi juga menjadi cara untuk tampil beda dan unik.
Era 90-an dan Pengaruh Musik Grunge
Era 90-an membawa angin segar bagi dunia thrifting, terutama dengan munculnya musik grunge yang dipopulerkan oleh band seperti Nirvana. Gaya berpakaian Kurt Cobain, vokalis Nirvana, yang sering mengenakan ripped jeans, kemeja flanel, dan pakaian oversized hasil thrifting, sangat memengaruhi gaya berpakaian anak muda pada masa itu. Thrifting pun semakin diterima sebagai bagian dari budaya populer.
Pengaruh musik grunge terhadap tren ini sangat signifikan. Gaya berpakaian yang kasual, anti-fashion, dan terkesan “apa adanya” yang dipopulerkan oleh musisi grunge mendorong anak muda untuk mencari pakaian bekas yang unik dan vintage di toko-toko thrift. Hal ini semakin memperkuat citranya sebagai kegiatan yang keren dan stylish.
Thrifting di Era Digital: Tren yang Mendunia
Perkembangan teknologi dan internet, khususnya media sosial, telah membawa thrifting ke level yang baru. Platform seperti Instagram, TikTok, dan berbagai marketplace online memudahkan orang untuk membeli dan menjual pakaian bekas dari mana saja. Istilah thrift haul dan preloved fashion pun semakin populer di kalangan generasi muda.
Media sosial berperan penting dalam mempopulerkannya di era digital. Influencer dan content creator di media sosial sering membagikan outfit thrift mereka, memberikan tips dan trik, serta mengedukasi masyarakat tentang manfaatnya bagi lingkungan. Hal ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang thrifting dan mendorong semakin banyak orang untuk mencobanya.