Generasi Milenial, Antara Momong Anak dan Orang Tua, Apa Kuat?
data-sourcepos="5:1-5:592">harmonikita.com – Menjadi orang tua di era milenial adalah sebuah perjalanan yang penuh warna, namun tak jarang juga dipenuhi tantangan yang kompleks. Generasi ini, yang kini memasuki usia matang dan produktif, seringkali dihadapkan pada peran ganda yang menuntut energi dan perhatian ekstra: merawat anak-anak yang masih kecil, sekaligus bertanggung jawab atas orang tua yang memasuki usia senja. Kondisi ini menciptakan fenomena yang dikenal sebagai generasi sandwich, sebuah istilah yang menggambarkan tekanan berat yang dialami oleh mereka yang terjepit di antara dua generasi yang membutuhkan perawatan.
Tantangan Ganda Generasi Sandwich Milenial
Generasi milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, tumbuh di tengah perubahan zaman yang sangat pesat. Mereka menyaksikan perkembangan teknologi digital, globalisasi, dan perubahan sosial yang signifikan. Ketika mereka memasuki fase dewasa dan berkeluarga, tantangan yang dihadapi pun semakin beragam. Selain harus membangun karir dan menata kehidupan rumah tangga, mereka juga harus menghadapi realitas bahwa usia harapan hidup manusia semakin meningkat, yang berarti orang tua mereka hidup lebih lama dan membutuhkan dukungan lebih banyak.
Beban Finansial yang Meningkat
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi sandwich milenial adalah beban finansial yang meningkat. Merawat anak-anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, orang tua lanjut usia juga mungkin membutuhkan dukungan finansial untuk biaya perawatan kesehatan, tempat tinggal yang layak, atau bahkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari jika mereka tidak lagi mampu mandiri secara finansial.
Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, biaya pendidikan anak di kota-kota besar semakin mahal, biaya kesehatan juga terus melonjak, dan harga properti semakin tidak terjangkau. Sementara itu, upah riil tidak selalu mengalami peningkatan yang sepadan, sehingga semakin banyak keluarga milenial yang merasa kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup, apalagi jika harus menanggung biaya perawatan orang tua.
Tekanan Emosional dan Mental
Selain beban finansial, generasi sandwich milenial juga menghadapi tekanan emosional dan mental yang signifikan. Merawat anak-anak dan orang tua sekaligus membutuhkan energi fisik dan mental yang besar. Mereka harus mampu membagi waktu, perhatian, dan kasih sayang untuk kedua generasi tersebut. Tak jarang, mereka merasa kelelahan, stres, dan bahkan depresi karena merasa kewalahan dengan semua tanggung jawab yang harus diemban.
Peran sebagai perawat ganda dapat menimbulkan konflik internal dan eksternal. Konflik internal muncul ketika seseorang merasa bersalah karena tidak mampu memberikan yang terbaik untuk kedua generasi sekaligus. Mereka mungkin merasa bersalah karena tidak memiliki cukup waktu untuk bermain dengan anak-anak, atau merasa bersalah karena tidak bisa selalu menemani orang tua yang kesepian. Konflik eksternal bisa muncul dalam hubungan keluarga, misalnya perbedaan pendapat dengan pasangan mengenai prioritas perawatan, atau konflik dengan saudara kandung mengenai pembagian tanggung jawab merawat orang tua.
Keterbatasan Waktu dan Energi
Waktu dan energi adalah sumber daya yang sangat berharga, terutama bagi generasi sandwich milenial yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Membagi waktu antara pekerjaan, mengurus rumah tangga, merawat anak-anak, dan merawat orang tua lanjut usia bukanlah perkara mudah. Mereka seringkali merasa kekurangan waktu untuk diri sendiri, untuk beristirahat, atau untuk melakukan hal-hal yang mereka nikmati.
Keterbatasan waktu dan energi dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental generasi sandwich. Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, dan kurangnya waktu untuk berolahraga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit fisik seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pencernaan. Stres kronis juga dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan burnout.