7 Ekspektasi Toxic yang Harus Dihindari Orang Tua terhadap Anak Dewasa
harmonikita.com – Sebagai orang tua, wajar jika kita memiliki harapan terhadap anak-anak kita, terutama saat mereka sudah menjadi anak dewasa. Namun, seringkali batasan antara harapan dan tekanan menjadi kabur, sehingga memicu konflik dalam hubungan keluarga.
Di era modern ini, di mana kemandirian dan kebebasan individu semakin dihargai, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa anak dewasa memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Artikel ini akan membahas beberapa ekspektasi yang sebaiknya tidak lagi dipaksakan kepada anak yang sudah dewasa, serta bagaimana menjaga hubungan tetap harmonis tanpa mengorbankan kebahagiaan kedua belah pihak.
1. Mengharapkan Anak Mengikuti Seluruh Rencana Hidup yang Telah Disusun Orang Tua
Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, ketika anak sudah dewasa, memaksakan rencana hidup seperti jurusan kuliah, karier, atau bahkan pasangan hidup bisa menjadi bumerang. Menurut data BPS (2023), sekitar 34% generasi muda Indonesia merasa tertekan akibat tekanan orang tua dalam menentukan pilihan hidup.
Anak dewasa memiliki cara pandang, nilai, dan prioritas yang mungkin berbeda dengan orang tua. Misalnya, seorang anak mungkin lebih memilih menjadi content creator ketimbang bekerja di perusahaan bonafid. Alih-alih memaksa, orang tua bisa membuka dialog untuk memahami alasan di balik pilihan anak. Dengan demikian, hubungan tetap terjaga tanpa membuat anak merasa terpenjara oleh ekspektasi.
2. Menganggap Anak sebagai “Investasi” untuk Masa Depan Orang Tua
Budaya tertentu masih menganggap anak sebagai “jaminan” untuk merawat orang tua di masa tua. Meski merawat orang tua adalah bentuk bakti, menuntut anak dewasa untuk mengorbankan kebebasan finansial atau karier demi hal ini bisa menimbulkan beban psikologis. Survei dari Lembaga Demografi UI (2022) menunjukkan bahwa 41% anak usia 25-35 tahun merasa terbebani oleh ekspektasi finansial orang tua.
Orang tua perlu memahami bahwa anak dewasa juga memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, seperti membangun keluarga atau mengembangkan karier. Solusinya? Diskusikan perencanaan keuangan sejak dini, termasuk asuransi kesehatan atau dana pensiun, agar ketergantungan tidak sepenuhnya dibebankan ke anak.
3. Menuntut Anak untuk Selalu Menjadi “Sumber Kebahagiaan” Orang Tua
Tidak jarang orang tua mengharapkan anak dewasa untuk selalu hadir dalam setiap momen penting, merayakan hari spesial bersama, atau bahkan tinggal satu rumah. Padahal, anak mungkin telah membangun kehidupan sendiri, baik di kota berbeda maupun negara lain. Menurut riset Kementerian PPPA (2023), 28% konflik keluarga terjadi karena perbedaan ekspektasi mengenai frekuensi pertemuan.
Alih-alih menuntut kehadiran fisik, orang tua bisa memanfaatkan teknologi untuk tetap terhubung. Video call, grup keluarga di media sosial, atau mengirimkan hadiah kecil bisa menjadi alternatif. Ingatlah: kebahagiaan orang tua seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada anak, melainkan juga pada hobi, pertemanan, atau aktivitas sosial lainnya.
4. Memaksa Anak untuk Menikah atau Memiliki Anak Sesuai “Timeline” Orang Tua
“Kapan nikah?” atau “Kapan punya cucu?” adalah pertanyaan yang sering membuat anak dewasa merasa tidak nyaman. Di Indonesia, tekanan pernikahan masih sangat kental, terutama bagi perempuan. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2023) menyebutkan bahwa 65% perempuan usia 27-35 tahun merasa tertekan oleh pertanyaan ini dari keluarga.
Setiap orang memiliki waktu dan alasan sendiri untuk menikah atau tidak. Bagi sebagian anak, fokus pada karier atau keinginan untuk menjadi lebih matang secara finansial adalah prioritas. Orang tua perlu menghormati keputusan ini, karena pernikahan yang dipaksakan justru berisiko memicu perceraian atau ketidakbahagiaan jangka panjang.
5. Mengharapkan Anak untuk Selalu Setuju dengan Pendapat Orang Tua
Hubungan orang tua dan anak dewasa seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan. Sayangnya, beberapa orang tua masih merasa bahwa pendapat mereka harus selalu diikuti, bahkan dalam hal-hal personal seperti gaya hidup atau keyakinan. Padahal, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.