Optimisme Boleh, Asal Jangan Jadi Toxic Positivity ke Anak!
data-sourcepos="3:1-3:421">harmonikita.com – Optimisme memang penting, terutama dalam pengasuhan anak. Namun, optimisme yang berlebihan atau yang dikenal sebagai toxic positivity justru dapat membebani mental anak dan berdampak negatif bagi perkembangan mereka. Istilah toxic positivity mungkin terdengar familiar di era media sosial saat ini. Tapi, tahukah kamu bahwa fenomena ini juga bisa meracuni interaksi kita dengan buah hati? Mari kita bahas lebih dalam.
Memahami Konsep Toxic Positivity dalam Pengasuhan
Toxic positivity dalam pengasuhan merujuk pada sikap orang tua yang terus-menerus menuntut anak untuk selalu positif, bahagia, dan mengabaikan emosi negatif yang mereka rasakan. Orang tua yang menerapkan toxic positivity seringkali menggunakan kalimat-kalimat seperti “Jangan sedih, kamu harus kuat!”, “Lihat sisi baiknya saja!”, atau “Semua pasti akan baik-baik saja!” tanpa benar-benar memahami perasaan anak. Sekilas, kalimat-kalimat tersebut terdengar membangun. Namun, dalam konteks yang salah, kalimat-kalimat tersebut justru meremehkan perasaan anak dan membuat mereka merasa bersalah karena telah merasakan emosi negatif.
Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, juga mengalami berbagai macam emosi, termasuk sedih, marah, kecewa, dan takut. Emosi-emosi ini adalah bagian alami dari perkembangan manusia dan penting untuk diakui serta diproses dengan sehat. Ketika orang tua terus-menerus menolak atau mengabaikan emosi negatif anak, mereka secara tidak langsung mengajarkan anak untuk menekan perasaan mereka sendiri. Hal ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental anak dalam jangka panjang.
Dampak Negatif Toxic Positivity pada Anak
Toxic positivity dalam pengasuhan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada anak, di antaranya:
1. Menekan Emosi dan Kurangnya Validasi
Ketika anak dilarang untuk merasakan emosi negatif, mereka belajar untuk memendam perasaan mereka. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mengelola emosi di kemudian hari dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Anak juga merasa bahwa perasaannya tidak valid, sehingga mereka merasa tidak dimengerti dan sendirian.
2. Kesulitan Membangun Resiliensi
Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan. Anak-anak belajar membangun resiliensi dengan menghadapi dan mengatasi tantangan serta emosi negatif. Ketika orang tua selalu berusaha “menyelamatkan” anak dari emosi negatif dengan toxic positivity, anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar mengatasi kesulitan mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi kurang tangguh dan lebih sulit menghadapi tantangan di masa depan.
3. Hubungan Orang Tua dan Anak yang Renggang
Toxic positivity dapat merusak hubungan antara orang tua dan anak. Anak merasa bahwa mereka tidak bisa jujur dengan orang tua tentang perasaan mereka karena takut dihakimi atau diabaikan. Hal ini dapat menciptakan jarak emosional antara orang tua dan anak, serta mengurangi kepercayaan anak pada orang tua.
4. Perfeksionisme dan Ketakutan akan Kegagalan
Ketika anak terus-menerus dituntut untuk selalu positif dan bahagia, mereka mungkin merasa tertekan untuk menjadi sempurna. Mereka takut mengecewakan orang tua jika mereka gagal atau merasa sedih. Hal ini dapat memicu perfeksionisme yang tidak sehat dan ketakutan yang berlebihan terhadap kegagalan.
Bagaimana Menghindari Toxic Positivity dalam Pengasuhan?
Lalu, bagaimana caranya agar kita sebagai orang tua tidak terjebak dalam toxic positivity? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:
1. Validasi Emosi Anak
Langkah pertama adalah mengakui dan memvalidasi emosi anak. Ketika anak merasa sedih, marah, atau kecewa, dengarkan mereka dengan empati dan katakan bahwa perasaan mereka wajar. Misalnya, “Ibu/Ayah mengerti kamu sedih karena mainanmu rusak.”