Gen Z dan Multitasking: Mitos atau Fakta? Kupas Tuntas!

Gen Z dan Multitasking: Mitos atau Fakta? Kupas Tuntas!

data-sourcepos="3:1-3:242">harmonikita.com – Gen Z multitasking, sebuah frasa yang sering kita dengar. Generasi yang lahir di era digital ini memang lekat dengan kemampuan melakukan banyak hal sekaligus. Tapi, benarkah Gen Z benar-benar ahlinya multitasking? Mari kita kupas lebih dalam.

Stereotip Multitasking pada Gen Z

Generasi Z, atau yang akrab disapa Gen Z, adalah generasi yang tumbuh besar bersama teknologi. Lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, mereka menyaksikan perkembangan internet, media sosial, dan perangkat seluler yang begitu pesat. Kondisi ini membentuk stereotip bahwa Gen Z mahir dalam multitasking, mampu mengerjakan berbagai tugas dalam satu waktu, mulai dari mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas, chatting dengan teman sembari menonton video, dan sebagainya.

Stereotip ini muncul karena beberapa faktor:

  • Paparan Teknologi Sejak Dini: Gen Z terbiasa dengan berbagai perangkat dan platform digital sejak kecil. Mereka fasih menggunakan smartphone, media sosial, dan internet, sehingga terbiasa berpindah-pindah antar aplikasi dan informasi.
  • Tuntutan Era Digital: Era digital menuntut kecepatan dan efisiensi. Gen Z dituntut untuk beradaptasi dengan informasi yang datang secara bersamaan dari berbagai sumber. Hal ini membentuk persepsi bahwa mereka mampu melakukan banyak hal sekaligus.
  • Pengaruh Media Sosial: Media sosial menyajikan informasi dalam format pendek dan cepat. Gen Z terbiasa mengonsumsi informasi secara simultan, yang kemudian diinterpretasikan sebagai kemampuan multitasking.

Mitos di Balik Multitasking

Namun, benarkah multitasking itu efektif? Penelitian justru menunjukkan sebaliknya. Multitasking sebenarnya adalah task switching, yaitu perpindahan fokus yang cepat antara beberapa tugas. Otak kita tidak benar-benar memproses beberapa informasi sekaligus, melainkan berpindah-pindah dengan cepat di antara tugas-tugas tersebut.

Baca Juga :  Otak Kiri vs Otak Kanan, Cara Cerdas Maksimalkan Keduanya

Proses task switching ini justru memakan waktu dan energi. Setiap kali kita berpindah fokus, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tugas yang baru. Hal ini dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan risiko kesalahan, dan mengurangi kualitas pekerjaan.

Beberapa penelitian mendukung argumen ini:

  • Penelitian dari Stanford University: Studi menunjukkan bahwa orang yang sering melakukan multitasking justru kesulitan memfokuskan perhatian, mengingat informasi, dan beralih dari satu tugas ke tugas lain.
  • Penelitian dari University of Michigan: Studi menemukan bahwa multitasking dapat menurunkan performa kognitif, bahkan lebih buruk daripada efek mengonsumsi alkohol atau begadang.

Realita Multitasking pada Gen Z

Lantas, bagaimana dengan Gen Z? Meskipun terbiasa dengan teknologi dan informasi yang datang secara simultan, bukan berarti mereka benar-benar mahir dalam multitasking. Mereka lebih terampil dalam task switching dan beradaptasi dengan informasi yang beragam.

Baca Juga :  Beyond the Feed, Benarkah Orang yang Menghilang dari Media Sosial Justru Lebih Bahagia?

Kemampuan ini memang berguna dalam beberapa situasi, misalnya saat mencari informasi di internet atau berkomunikasi dengan banyak orang sekaligus. Namun, untuk tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, multitasking justru dapat mengganggu performa mereka.

Gen Z perlu memahami bahwa fokus pada satu tugas dalam satu waktu ( single-tasking) justru lebih efektif dan efisien. Dengan memusatkan perhatian pada satu hal, mereka dapat menyelesaikan tugas dengan lebih baik dan menghindari kesalahan.

Mengoptimalkan Potensi Gen Z di Era Digital

Alih-alih memaksakan diri untuk multitasking, Gen Z dapat mengoptimalkan potensi mereka di era digital dengan cara berikut:

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *