Hati-Hati, Sikap Sopan Pun Bisa Menyakitkan
Menurut American Psychological Association (APA), terus-menerus menekan emosi dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan bahkan penyakit fisik seperti tekanan darah tinggi. Menjadi sopan memang penting, tetapi tidak seharusnya mengorbankan kesehatan mental kita.
6. Bagaimana Menjaga Keseimbangan antara Sopan dan Autentik?
Mengatasi sisi gelap perilaku sopan bukan berarti kita harus sepenuhnya meninggalkannya. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara bersikap sopan dan tetap autentik. Berikut beberapa tips untuk melakukannya:
- data-spread="true">
- Gunakan Kejujuran dengan Empati Saat memberikan masukan atau pendapat, pilih kata-kata yang lembut namun tetap jujur. Misalnya, “Aku rasa warna pakaian ini kurang cocok denganmu, tapi mungkin yang berwarna cerah akan lebih bagus.”
- Belajar Mengatakan Tidak Katakan “tidak” dengan tegas tetapi tetap sopan. Anda bisa menambahkan alasan singkat, seperti “Maaf, saya tidak bisa membantu kali ini karena jadwal saya sedang penuh.”
- Jangan Takut Menyuarakan Ketidakadilan Jika Anda merasa ada perlakuan yang tidak adil, jangan ragu untuk mengungkapkannya. Anda bisa melakukannya dengan cara yang tidak konfrontatif, seperti mengajukan pertanyaan atau memberikan saran konstruktif.
- Prioritaskan Kesehatan Mental Belajarlah untuk mengenali kapan Anda perlu istirahat dan menjaga diri sendiri. Tidak perlu selalu tersenyum jika Anda sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Orang lain akan lebih menghargai kejujuran Anda daripada senyum palsu.
Sopan santun adalah elemen penting dalam hubungan sosial, tetapi bukan berarti kita harus mengorbankan kejujuran, kesehatan mental, atau prinsip kita sendiri. Dengan memahami sisi gelap dari perilaku sopan dan menerapkan keseimbangan yang sehat, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih autentik dan bermakna. Jadi, mulai sekarang, mari bersikap sopan dengan cara yang tidak hanya baik untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri.