Rebahan di Lantai, Ritual yang Bisa Menyehatkan Jiwa?

Rebahan di Lantai, Ritual yang Bisa Menyehatkan Jiwa? (www.freepik.com)

harmonikita.com – Rebahan di lantai, yang sering dianggap sebagai kegiatan santai atau bahkan malas-malasan, ternyata menyimpan segudang manfaat tak terduga, terutama untuk kesehatan jiwa kita. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, terkadang kita lupa akan pentingnya memberikan jeda bagi pikiran dan tubuh. Nah, salah satu cara sederhana namun efektif untuk melakukan hal tersebut adalah dengan rebahan di lantai. Kedengarannya mungkin sepele, tapi percayalah, aktivitas ini bisa jadi penyelamat di kala stres melanda.

Meredakan Stres dan Kecemasan Seketika

Pernahkah kamu merasa begitu penat dan overwhelmed hingga rasanya ingin menghilang sejenak? Coba deh, lain kali jangan langsung mencari distraksi yang justru bisa menambah beban pikiran. Alih-alih, cobalah untuk rebahan di lantai. Sensasi dingin dan keras dari lantai bisa memberikan efek grounding yang menenangkan. Bayangkan dirimu seperti pohon yang kembali menancapkan akarnya ke bumi. Kontak fisik dengan permukaan yang stabil ini membantu menstabilkan sistem saraf, mengurangi produksi hormon stres seperti kortisol, dan memicu pelepasan endorfin, hormon kebahagiaan alami tubuh.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Complementary Therapies in Medicine menunjukkan bahwa teknik grounding atau earthing, yang salah satunya bisa dilakukan dengan berbaring di permukaan alami seperti tanah atau lantai tanpa alas kaki, dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi. Meskipun penelitian ini lebih fokus pada kontak langsung dengan alam, prinsip dasarnya tetap relevan ketika kita merebahkan diri di lantai rumah. Efek menenangkan yang dirasakan bisa membantu menjernihkan pikiran yang sedang kalut dan memberikan perspektif baru terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Koneksi Grounding: Kembali ke Alam, Kembali ke Diri

Konsep grounding atau earthing memang sedang menjadi tren di kalangan pegiat kesehatan mental dan fisik. Secara sederhana, grounding adalah praktik menghubungkan diri kita kembali dengan energi alami bumi. Meskipun terdengar mistis, secara ilmiah, bumi memiliki muatan elektron negatif yang dapat memberikan efek positif bagi tubuh manusia. Ketika kita bersentuhan langsung dengan bumi, elektron-elektron ini dapat membantu menetralkan radikal bebas dalam tubuh, mengurangi peradangan, dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Merebahkan diri di lantai, meskipun tidak seefektif berjalan tanpa alas kaki di tanah, tetap memberikan sensasi grounding yang bermanfaat. Permukaan lantai yang dingin dan keras dapat mengingatkan kita pada keberadaan fisik kita di dunia ini, membantu kita untuk lebih hadir dalam momen saat ini. Di tengah bombardir informasi dan stimulasi digital, momen-momen sederhana seperti ini bisa menjadi jangkar yang menahan kita agar tidak hanyut dalam pikiran dan kekhawatiran yang berlebihan.

Melepas Ketegangan Fisik, Meringankan Beban Pikiran

Coba perhatikan, ketika sedang stres atau cemas, tanpa sadar tubuh kita seringkali menegang. Bahu terangkat, rahang mengatup, dan otot-otot terasa kaku. Merebahkan diri di lantai memberikan kesempatan bagi seluruh tubuh untuk beristirahat dan melepaskan ketegangan tersebut. Gravitasi membantu menarik tubuh ke bawah, memungkinkan otot-otot untuk rileks secara alami.

Ketika tubuh rileks, pikiran pun cenderung ikut tenang. Ada hubungan erat antara kondisi fisik dan mental kita. Ketika tubuh merasa nyaman, pikiran pun akan lebih mudah diajak untuk beristirahat. Rebahan di lantai bisa menjadi cara sederhana untuk memutus siklus stres dan ketegangan yang saling memengaruhi. Bayangkan seperti mereset sistem dalam tubuh dan pikiranmu.

Meningkatkan Kesadaran Diri dan Mindfulness

Dalam kesibukan sehari-hari, seringkali kita bergerak secara otomatis tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang kita rasakan. Merebahkan diri di lantai bisa menjadi momen untuk berhenti sejenak dan terhubung kembali dengan diri sendiri. Tanpa distraksi gadget atau aktivitas lain, kita bisa lebih fokus pada sensasi tubuh, pernapasan, dan pikiran yang muncul.

Praktik sederhana ini secara tidak langsung melatih mindfulness atau kesadaran penuh. Kita belajar untuk mengamati pikiran dan perasaan tanpa menghakimi atau berusaha mengubahnya. Hanya dengan berbaring dan merasakan, kita memberikan diri kita ruang untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita. Kesadaran diri yang meningkat ini adalah langkah awal yang penting untuk mengelola emosi dan merespons stres dengan lebih baik.

Alternatif Sederhana untuk Meditasi

Banyak orang merasa kesulitan untuk bermeditasi karena berbagai alasan, mulai dari tidak bisa duduk diam hingga merasa pikirannya terlalu ramai. Nah, merebahkan diri di lantai bisa menjadi alternatif yang lebih mudah diakses untuk mendapatkan manfaat serupa dengan meditasi. Dalam posisi berbaring, tubuh akan lebih mudah rileks, sehingga pikiran pun cenderung lebih tenang.

Kamu bisa mencoba memfokuskan perhatian pada napas yang keluar masuk, merasakan sensasi tubuh yang menyentuh lantai, atau sekadar membiarkan pikiranmu mengalir tanpa berusaha mengendalikannya. Lakukan ini selama beberapa menit setiap hari, dan rasakan perbedaannya dalam tingkat stres dan kejernihan pikiranmu. Ini adalah cara sederhana untuk memberikan jeda pada otak yang terus-menerus bekerja.

Mengubah Perspektif dan Memberikan Ruang untuk Refleksi

Secara fisik, merebahkan diri di lantai mengubah perspektif visual kita terhadap dunia. Dari posisi berdiri atau duduk, kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ketika berbaring, langit-langit atau pemandangan sekitar terlihat berbeda. Perubahan perspektif fisik ini secara tidak langsung juga bisa memengaruhi perspektif mental kita.

Dalam posisi rebahan, kita mungkin merasa lebih kecil dan rentan, namun justru di sinilah kita bisa menemukan kekuatan untuk merenungkan berbagai hal tanpa tekanan. Kita memberikan diri kita ruang untuk melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas, mencari solusi yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Momen hening saat rebahan bisa menjadi waktu yang produktif untuk refleksi diri dan perencanaan ke depan.

Tren Wellbeing yang Semakin Populer

Fenomena merebahkan diri di lantai ini sebenarnya sejalan dengan tren wellbeing yang semakin populer di kalangan anak muda dan masyarakat umum. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan fisik semakin meningkat, dan orang-orang mencari cara-cara sederhana dan alami untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Di media sosial, kamu mungkin sering melihat konten-konten tentang self-care, meditasi, yoga, dan praktik-praktik mindfulness lainnya. Merebahkan diri di lantai adalah salah satu praktik sederhana yang bisa diintegrasikan ke dalam rutinitas self-care harianmu. Tidak perlu peralatan khusus atau biaya mahal, kamu bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja.

Bagaimana Cara Melakukannya?

Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana sih cara merebahkan diri di lantai yang benar agar bisa mendapatkan manfaat maksimal? Sebenarnya tidak ada aturan baku. Kamu bisa melakukannya di mana saja yang terasa nyaman bagimu, baik di ruang tamu, kamar tidur, atau bahkan di taman jika memungkinkan.

Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba:

  • Cari tempat yang tenang: Hindari tempat yang terlalu ramai atau berisik agar kamu bisa lebih fokus pada diri sendiri.
  • Gunakan alas yang nyaman (opsional): Jika lantai terlalu dingin atau keras, kamu bisa menggunakan matras yoga, selimut tipis, atau bantal kecil di bawah kepala atau lutut untuk menambah kenyamanan.
  • Atur posisi tubuh: Kamu bisa berbaring telentang dengan tangan di samping tubuh atau di atas perut, atau berbaring miring dengan posisi yang paling nyaman bagimu.
  • Rilekskan seluruh tubuh: Cobalah untuk melepaskan semua ketegangan di otot-ototmu. Mulailah dari ujung jari kaki hingga ujung kepala.
  • Fokus pada pernapasan: Tarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan perlahan melalui mulut. Rasakan setiap hembusan napas yang keluar dari tubuhmu.
  • Biarkan pikiran mengalir: Jangan berusaha untuk menghentikan pikiran yang muncul. Amati saja pikiran-pikiran itu tanpa menghakimi atau terlibat di dalamnya.
  • Nikmati momennya: Berikan dirimu waktu setidaknya 5-10 menit untuk benar-benar menikmati momen rebahan ini. Rasakan sensasi tubuh yang menyentuh lantai dan ketenangan yang mungkin mulai kamu rasakan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Rebahan di Lantai?

Sebenarnya, tidak ada waktu yang salah untuk merebahkan diri di lantai. Kamu bisa melakukannya kapan saja kamu merasa perlu, misalnya:

  • Saat merasa stres atau cemas: Rebahan bisa menjadi pertolongan pertama untuk menenangkan diri.
  • Setelah seharian beraktivitas: Memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
  • Sebelum tidur: Membantu merelaksasi tubuh dan pikiran agar tidur lebih nyenyak.
  • Saat jeda di tengah pekerjaan: Memberikan kesempatan untuk recharge energi.
  • Kapan pun kamu merasa ingin: Dengarkan intuisi tubuhmu. Jika kamu merasa ingin rebahan, lakukan saja.

Lebih dari Sekadar Tren Sesaat

Meskipun terlihat sederhana, praktik merebahkan diri di lantai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan jiwa kita. Ini bukan hanya sekadar tren sesaat, tetapi merupakan cara alami dan mudah diakses untuk meredakan stres, meningkatkan kesadaran diri, dan terhubung kembali dengan diri sendiri.

Jadi, lain kali jika kamu merasa penat, jangan ragu untuk mencoba merebahkan diri di lantai. Rasakan sendiri manfaatnya bagi pikiran dan jiwamu. Siapa tahu, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi salah satu kunci untuk hidup yang lebih seimbang dan bahagia. Yuk, coba rebahan sekarang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *