Pengerupukan: Bukan Sekadar Ritual, Ini Pembersihan Bhuta Kala di Bali!
data-start="66" data-end="492">harmonikita.com – Pengerupukan adalah tradisi unik yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali, tepat sehari sebelum perayaan Nyepi. Tradisi ini, yang kerap menjadi perbincangan di kalangan muda, memiliki makna mendalam yang tidak hanya menyangkut penyucian fisik, tetapi juga pembersihan batin. Melalui pengerupukan, masyarakat Bali berusaha mengusir Bhuta Kala, roh-roh jahat yang diyakini mampu mengganggu keseimbangan kehidupan manusia dan alam.
Sejarah dan Filosofi di Balik Pengerupukan
Tradisi pengerupukan telah lama melekat dalam budaya Bali sebagai bagian dari ritual penyambutan tahun baru. Pada dasarnya, pengerupukan bertujuan untuk membersihkan lingkungan dari pengaruh buruk yang dianggap dapat membawa malapetaka pada kehidupan sehari-hari. Dalam filosofi Bali, setiap makhluk hidup memiliki energi atau kekuatan yang harus dijaga agar selalu selaras dengan alam. Bhuta Kala, yang merupakan simbol dari segala bentuk kejahatan, keserakahan, dan sifat-sifat negatif lainnya, menjadi musuh utama yang harus diusir.
Cerita dan legenda mengenai Bhuta Kala sudah ada sejak zaman kuno, dan pengerupukan dipandang sebagai solusi spiritual untuk menetralkan energi negatif tersebut. Dengan mengusir roh jahat dan sifat buruk, masyarakat Bali berharap bisa menyambut hari baru dengan pikiran dan hati yang bersih, sehingga keseimbangan antara manusia dan alam dapat terjaga.
Rangkaian Upacara Pengerupukan
Pengerupukan bukanlah sekadar ritual biasa; ia merupakan rangkaian upacara yang penuh simbolisme dan keindahan budaya. Setiap tahapan dalam pengerupukan memiliki makna tersendiri, dimulai dari upacara Tawur Agung Kesanga yang dilakukan sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi, kemudian dilanjutkan dengan upacara Mecaru di pekarangan. Upacara ini merupakan momen penting di mana masyarakat berkumpul untuk bersama-sama membersihkan lingkungan dan mempersiapkan diri menyambut hari raya Nyepi.
Salah satu momen yang paling mencolok adalah saat masyarakat menebar nasi tawur di pekarangan rumah. Tindakan ini melambangkan penyebaran berkah dan harapan agar segala kejahatan segera hilang. Di samping itu, asap obor yang dilempar ke berbagai sudut rumah dan pekarangan dipercaya mampu mengusir roh jahat yang bersembunyi di kegelapan.
Ritual lain yang tak kalah menarik adalah kegiatan memukul benda-benda keras untuk menghasilkan bunyi gaduh. Bunyi yang dihasilkan dari kegiatan ini bukan hanya sekadar suara, melainkan merupakan simbol dari upaya menggugurkan energi negatif dan membawa suasana baru yang lebih harmonis. Bunyi gaduh tersebut diyakini dapat mengacaukan komunikasi antara dunia manusia dengan Bhuta Kala sehingga kejahatan tidak dapat menempel.
Peran Ogoh-ogoh dalam Ritual Pengerupukan
Salah satu ikon visual yang paling dikenal dalam pengerupukan adalah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang menggambarkan Bhuta Kala dalam wujud fisik. Biasanya, ogoh-ogoh diarak keliling desa adat dengan iringan musik gamelan yang khas, obor, dan petasan. Proses pengarakannya pun dilakukan dengan semangat yang tinggi, mencerminkan antusiasme masyarakat dalam menyambut era baru yang lebih bersih dari pengaruh buruk.
Setelah diarak, ogoh-ogoh pun dibakar sebagai simbol penghancuran segala bentuk kejahatan dan keserakahan yang selama ini menyelimuti lingkungan. Prosesi pembakaran ini bukan hanya sebagai ritual simbolis, melainkan juga merupakan perayaan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Api yang menyala dari ogoh-ogoh melambangkan semangat yang membara dalam diri masyarakat Bali untuk selalu menjaga kesucian dan keharmonisan alam.